menulis itu mudah

Resume Ke-10

 

MENULIS ITU MUDAH

Narasumber : Dr. Ngainun Naim

 

“Apa betul menulis itu mudah?” Jawaban sederhananya “Mudah. Tapi dengan catatan”. “Catatannya,  bagi yang sudah bisa. Bagi yang belum bisa, tentu sulit he he he” demikian lontaran pembuka yang disampaikan Narasumber dalam pembukaan pelatihan hari ini. Pelatihan ini disampaikan oleh Dr. Ngainun Naim, seorang akademisi dan seorang penulis buku yang produktif. Pelatihan ini didampingi oleh moderator Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd. Bertemakan Menulis Itu Mudah.

Narasumber menyampaikan beberapa langkah agar menulis itu mudah diantaranya yaitu :

1.   Mind set. Setting pikiran.

Menciptakan pikiran bahwa menulis itu mudah.  Bagaimana jika kenyataannya "tetap sulit?” Mindset “mudah” membantu kita, paling tidak, tetap optimis untuk mewujudkan bahwa menulis itu tidak sulit.

2.  Ciptakan pikiran jika menulis itu keterampilan SEKOLAH DASAR.

Menulis ini sesungguhnya tidak selalu butuh pendidikan yang tinggi. Keterampilan menulis itu merupakan keterampilan tingkat sekolah dasar. Menulis harus dimulai dari keyakinan. Tanpa keyakinan, orang tidak akan bisa menulis. Jika seseorang ingin bisa menulis, hal yang diperlukan bukan suatu bakat istimewa, tetapi minat yang besar dan kemauan berlatih. Perpaduan dua hal ini yang bisa membuat seseorang menjadi penulis. Nah, dari sini jelas bahwa MINAT dan KEMAUAN BERLATIH yang menjadi kunci sukses dalam menulis. Pendidikan bukan jaminan.

3.  Banyak Membaca

Membaca merupakan SYARAT WAJIB untuk bisa menulis dengan baik. Kecil kemungkinan orang bisa menulis dengan baik jika tidak memiliki budaya membaca. Jangan dibayangkan membaca itu sebagai kerja berat, suntuk, dan tidak menarik. Narsum menyampaikan pengalaman hariannya dalam membaca. Setiap hari katanya Beliau membaca tidak terlalu lama. Paling hanya 10-15 menit tetapi itu dilakukannya beberapa kali saat kesempatan ada. Sehari Beliau membaca minimal 10 halaman. Jika sedang banyak waktu senggang, Beliau membaca lebih banyak lagi. Nah, kebiasaan membaca inilah yang membuat ide menulis itu mudah ditemukan dan kemudian dikembangkan.

4.  Meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang

Kita semua memiliki kesibukan. Dari hari ke hari kesibukan kita bukannya berkurang tetapi semakin bertambah. Jika menuruti kesibukan, kita tidak akan sempat untuk menulis. Maka kunci untuk mengatasinya adalah LUANGKAN WAKTU, BUKAN MENUNGGU WAKTU LUANG. Jika kita menyempatkan waktu secara konsisten setengah jam sehari, itu sudah sangat luar biasa. Narsum mengisahkan cerita sahabat penulisnya yang konsisten menyisihkan waktu menulis setiap hari. Ia tidak menulis di laptop. Ia menulis di HP. Setiap ada kesempatan, walau hanya 5 menit, ia menulis. Tentu tidak selalu banyak yang bisa ditulis tetapi ia sangat istiqamah. Kini puluhan buku sudah ia hasilkan. Ini buah istiqamah.

5.  Rajin mengamati, mencatat, dan mengolah menjadi tulisan

Jadi penulis itu harus tajam mengasah pendengaran dan penglihatan. Bedanya penulis dengan bukan penulis itu ada pada kemampuan mengangkat hal biasa menjadi berbeda. Setelah mengamati, jangan lupa mencatat. Penulis itu rajin mencatat apa yang ditemukan. Setelah itu diolah menjadi tulisan. Jangan berpikir menghasilkan tulisan yang sempurna. Jangan. Tugas penulis yang utama itu terus berproses menulis. Jika sudah konsisten menulis, kualitas akan mengikuti. Intinya terus berproses dengan menulis dan terus menulis.

6.  Belajar menulis kepada penulis. Jadi belajarlah kepada para penulis. Pengalaman mereka sangat penting buat kita memperkaya perspektif.

Untuk memudahkan menulis Narsum membuat catatan sederhana tentang tipe dan kuadran menulis.

1.   Tipe Pertama, adalah mereka yang terus bertahan dan berproses dalam menekuni dunia menulis sejak mulai berkiprah sampai sekarang. Bagi penulis tipe ini, menulis sudah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan. Hari-harinya diisi dengan terus menulis dan menghasilkan karya. Cara kerjanya konsisten. Penulis tipe pertama ini tidak kenal musim. Orangnya selalu bisa eksis meskipun zaman berubah. Karyanya terus saja muncul seolah tidak kenal jeda. Bagi kelompok ini, tugas penulis adalah menulis dan menulis.

2.  Tipe kedua, adalah penulis musiman. Maksudnya, ia produktif menulis di saat ada momentum. Bagi dosen, mereka baru produktif menjelang deadline laporan kinerja, deadline laporan penelitian, dan deadline lainnya. Saat semacam ini mereka sangat produktif. Setelah tugas selesai, menulis juga berhenti. Profesi lainnya juga sama. Bagi tipe ini, dorongan eksternal menjadi penentu kinerja. Ketika tidak ada dorongan, aktivitas menulis cenderung pasif.

3.  Tipe ketiga, adalah penulis yang pernah produktif. Pada suatu masa, tipe ini sangat produktif dalam menghasilkan karya. Tulisan demi tulisannya terus saja bermunculan. Banyak orang yang mengagumi produktivitasnya. Namun zaman berubah. Kehidupan penulis tipe ini juga berubah. Produktivitas yang pernah disandang perlahan mulai surut sampai kemudian hilang sama sekali. Tidak ada lagi karya yang dihasilkan. Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi karena kesibukan kerja, menulis tidak lagi memberikan keuntungan finansial, kalah dengan kehadiran para penulis baru, dan banyak sebab lainnya. Karyanya tidak lagi muncul. Namun demikian masyarakat pernah mengenalnya sebagai seorang penulis yang produktif.

4.  Tipe keempaat, adalah penulis yang pernah muncul dengan karyanya. Mungkin ia pernah menulis satu atau dua artikel. Bisa juga satu atau dua buku. Setelah itu tidak lagi ada karya yang terbit. Namun demikian sejarah mencatat bahwa penulis tipe ini pernah menorehkan karyanya.

5.  Tipe kelima, adalah penulis cita-cita. Ya, cita-citanya menjadi penulis. Namanya juga cita-cita, belum ada karyanya. Ia masih terus membangun cita-citanya, entah kapan akan terwujud.

Dalam perspektif berbeda, penulis buku produktif Nurul Chomaria membagi penulis menjadi beberapa kuadran. Menurut penulis lebih dari 70 judul buku tersebut, ada empat kuadran penulis. Kuadran Pertama adalah penulis yang mau dan mampu. Di kuadran Kedua, penulis yang tidak mampu tapi mau. Kuadran Ketiga adalah penulis yang mampu tapi tidak mau. Adapun di kuadran Keempat, adalah tidak mampu dan tidak mau. Jika kita sudah memahami di posisi mana kita, maka kita dapat menentukan langkah.

Sekarang mari kita instropeksi diri. Termasuk tipe manakah kita? Masuk kuadran yang mana? Anda lebih tahu. Namun yang lebih penting bukan tahu posisi tetapi apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui posisi diri kita. Kunci menulis sampai bisa menerbitkan buku solo (agar tulisan dapat menarik pembaca dan tulisan kita tidak keluar dari tema) kunci utamanya adalah ATM ; Amati, Tiru, dan Modifikasi. Ambil buku, lalu cermati. itu kunci penting.

Musuh terbesar menulis adalah diri sendiri. Jika ingin sukses menulis maka kendalikan diri sendiri. Bangun rasa percaya diri. Dalam kaidah bahasa Arab disebutkan bahwa PERCAYA DIRI ITU DASAR SUKSES. Jadi abaikan segala keraguan. Kadang yang kita ragukan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, kita malu tulisan kita belum bagus. Padahal orang juga tidak menilai begitu. Kadang kita takut salah. Padahal, tidak ada yang menilai salah. Jadi, terus berproses. Lanjut. Narsum menyampaikan cerita nyata tentang kawannya yang--mohon maaf--tulisannya tidak terlalu bagus. Tapi pedenya luar biasa. Sekarang bukunya sudah sekitar 60 judul. Bukunya bagus semua? Tidak juga. Tapi dia sudah menghasilkan banyak buku. Kawan yang nyinyir malah belum menulis satu buku pun.

MARI MENULIS DAN TERUS MENULIS. MENULIS ITU MUDAH ASAL SUDAH TERBIASA. SALAM.


Komentar

Posting Komentar