Mengatasi Writer's Blocks

 Resume Pelatihan Ketujuh

 Mengatasi Writer's Blocks

Narasumber : Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.

 

Muda dan berprestasi. Itu kesan pertama melihat Ibu Narsum kali ini. Banyak sekali prestasi yang sudah diraih Ibu Narsum, Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr. Ini, terlebih dalam bidang penulisan. Semua ini tidak lepas dari jasa baik tim penulisan gratis dimana Om Jay sebagai kepala dalam pelatihan tersebut.

Pelatihan pertama diawali dengan pemberian tugas berupa pembuatan tulisan dengan kata HUJAN, PAGI, HANTU. Narsum memberi waktu 15 menit untuk membuat tulisan dengan unsur tiga kata tersebut. Tulisan bisa puisi, pentigraf dan lain-lain. Saya sendiri mencoba sebisa mungkin melaksanakan perintah itu dan inilah hasilnya :

Pagi-pagi hujan sudah turun. Serasa angin dingin menembus seluruh tulang belulang. Ku tarik selimut ini lebih tinggi lagi untuk menutup seluruh badan dan memberi rasa hangat. Dalam remang dan redupnya mata yang hendak kembali nyenyak terlintas kelebat tinggi putih berambut panjang. Hantukah ? Seketika mata terbelalak dan ku lihat jam weker menunjukkan pukul 05.30. Waduh bagaimana ini?

Tak terasa si tinggi putih dan berambut panjang itu adalah postur kepala sekolah yg suka berdiri di pintu saat jam sekolah akan dimulai. Saya harus berangkat jam 05.45 agar bisa sampai sekolah dengan selamat sentosa padahal sekarang di jam 05.30 saya baru bangun… keringat bercucuran, hawa dingin sudah tak terasa menusuk tulang lagi yang ada kalut pikiran, jantung berdegup. Ku kejar waktu dengan seluruh tenagaku… waduuuh, nyesel sekali semalam tidur larut menonton drakor. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Namun sayang ketika jari akan menekan mouse untuk mengirimkan tulisan ini ke WAG, saat itu pula grup ditutup admin. Waduh nyesek rasanya..

Ketika tugas tersebut diberikan ada sebagian dari kita mungkin yang masih bingung harus menulis apa dengan kata Hujan, Pagi, dan Hantu. Sebagian mungkin ada yang masih merasa malu, takut dibandingkan dengan hasil orang lain, takut tidak sesuai kaidah dsb. Sehingga tidak menulis apa-apa. Atau, ada yang masih asing dengan tema hantu sehingga tidak tahu harus menulis apa. Semua yang disebutkan tadi adalah contoh penyebab writer's block  (WB). Wikipedia mengartikan writer's block sebagai keadaan saat penulis kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya.

WB juga tidak terbatas pada penulis buku saja. Blogger, mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir, screen writer (penulis naskah seperti untuk film, sinetron), script writer (penulis teks untuk dibacakan pembaca berita) dll juga bisa mengalami WB. Dalam sebuah artikel di idntimes disebutkan bahwa berdasarkan sebuah penelitian dari Yale psychologists pada tahun 1970 dan 80-an yang akhir-akhir ini kembali ditinjau New Yorker, writer's block merupakan hal yang konkrit dan fenomena yang bisa diatasi. Untuk memahami fenomena ini, dua orang psikolog, Jerome Singer dan Michael Barrios pun mengadakan sebuah penelitian terhadap para penulis dengan latar belakang berbeda.

Dari berbagai sumber Ibu Narsum menyimpulkan bahwa penyebab WB, adalah :


 Topik yang asing atau mencoba metode baru dalam menulis bisa membuat kita mengalami WB. Lantas bagaimana memecahkan masalah ini? Tentu ada banyak cara misalnya dengan mempelajari lebih seksama terkait metode baru tersebut (misal terbiasa menulis cerpen kemudian harus menulis KTI). Atau jika terkait tema, kita bisa jeda sedikit saat menulis lalu membaca referensi tambahan terkait tema untuk memperkaya wawasan dan kosa kata.

Stress juga bisa jadi penyebab WB. Anda yang terlalu khawatir dengan penilaian orang, bisa jadi menyimpan tulisan untuk dikenang saja alias hanya disimpan sendiri. "Orang bakal suka gak ya? Ini dah sesuai KBBI belum ya? Diksinya dah oke belum ya?" dan berbagai pertanyaan sejenis bisa membuat kita terserang WB.

Untuk kasus ini, perlu selalu ingatkan pada diri kita sendiri bahwa "kita tak akan pernah bisa membuat semua orang suka dengan kita, tapi yakinlah bahwa apa yang kita tulis akan tetap bermanfaat minimal bagi diri sendiri karena menulis pun bisa jadi terapi psikolog bukan?

WB bisa juga menjadi indikator bahwa fisik/mental kita sedang lelah. Banyak pekerjaan misalnya. Selain lelah fisik, work under pressure juga bisa menyebabkan kita lelah secara mental. Saat ini terjadi, kita ambil nafas sejenak dan rehatlah. Refresh kembali hati, fisik dan pikiran kita.

Hal lain yang juga bisa menjadi penyebab WB adalah terlalu perfeksionis. Misal tulisannya harus dibaca ratusan dan ribuan orang kalau tidak begitu tidak akan menulis. Tulisannya harus jadi juara lomba dan sebagainya. Memiliki target dalam menulis itu penting. Tapi jangan sampai hal tersebut membuat kita terlalu perfeksionis sehingga malah kehilangan ide ide baru untuk menulis.

Simulasi yang tadi kita lakukan itu adalah contoh dari menulis bebas. Dalam menulis bebas, aturan penggunaan tanda baca dll yang sesuai PUEBI bisa dikesampingkan terlebih dahulu yang penting nulis dulu. Kalau pun masih ada yang salah bisa kita perbaiki kemudian. Melansir dari laman Writer’s Digest, menulis bebas akan membantu melatih otak dalam hal menggali kata-kata yang sebenarnya sudah ada di dalam kepala sejak lama, dan memberikan tempat untuk kata-kata baru tersebut dalam proyek tulisan yang sedang kita kerjakan saat ini. Dengan kata lain melakukan kegiatan menulis bebas secara rutin bisa membantu kita menemukan ide-ide baru untuk menulis banyak hal. Hal ini tentu saja bermanfaat dalam menyembuhkan penyakit WB.

WB itu bisa bersarang lama bisa juga sebentar. Hal itu sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang penulis mengatasi BW tersebut. Dengan kata lain, WB bisa terjadi dalam hitungan menit, jam, hari, bulan, bahkan bertahun-tahun. Pertanyaannya, mau sampai kapan kita biarkan WB ini berlangsung? Kalau kita tak segera bangkit atasi WB, tentu karya tulis tak akan jadi jadi.

Hampir setiap orang memiliki banyak kesibukan yang menyita waktu dan fikiran sehingga membuat lelah fisik dan fikiran dan akhirnya membuat macet dalam menulis. Lantas bagaimana mengatasinya? Narsum memberikan solusi misalnya dengan mencari waktu dimana mood kita paling bagus, biasanya saat pagi sebelum subuh. Ketika pikiran masih fresh, sempatkan menulis. Bisa juga gunakan teknik "hanya 5 menit". Pernah dengar anak bilang "ntar Mah, maennya 5 menit lagi". Apa yang terjadi? Biasanya bablas lewat dari 5 menit. Cara seperti itu bisa coba kita terapkan. Kemudian buat afirmasi positif terhadap diri sendiri. Misalnya "Bismillah, pagi ini mau nulis ah walau cuma 5 menit". Demikian paparan yang disampaikan Narsum dalam menghadapi WB.

Akhirnya, berkarya lah sesuai dengan passion kita. Sesuai dengan apa yang kita sukai dan kuasai. Dengan begitu, halang rintang apa pun insya Allah akan bisa kita lalui. Prestasi adalah bonus, yang penting kita tetap tergerak, bergerak, dan menggerakkan.

 

 

 

Komentar

  1. Sama bunda nyesek mo nangis rasanya. Tulisan tantangan siap dikirim WAG ditutup.

    BalasHapus
  2. Semangat, Dan banyak ilmu yang didekat dari materi malam ini

    BalasHapus
  3. Semangat bunda...tulisannya bagus dan rapih

    BalasHapus
  4. Terimakasih Bunda Rohaina, Bunda Murniasih dan unknown, sudah mampir ke sini. Terima kasih.

    BalasHapus
  5. Bu Mafrudah dan Pak Dail terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer