Menulis Semudah Ceplok Telur

Resume Pertemuan Kelima

MENULIS SEMUDAH CEPLOK TELUR

Narasumber : Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H.

 

Judul di atas adalah quote Narasum Ibu Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H. dalam memberi semangat kepada mereka yang berkehendak menulis atau menjadi penulis. Ibu Narasum merasakan menulis itu begitu mudah semudah membuat ceplok telur, tuk byaaar… Telur di ketuk, langsung masuk penggorengan siap disajikan dan siap disantap. Menulis itu tidak sulit. Jadi menulislah. Menulis adalah berteriak pada dunia tanpa suara. Bahkan menurut Hadis Rosulullah SAW menulis itu perintah Alloh. Dalam kehidupan duniawi pun menulis itu ada dalam Permendikbud RI yang diataur di PERMEN 23 Tahun 2015. Melaksanakan perintah akan menimbulkan pahala sekaligus mensukseskan pemerintah.

Ada pula quote yang tak kalah menariknya yang ditulis Imam Ghazali “Kalau kamu bukan anak Raja atau bukan anak ulama besar, maka menulislah” Quote yang sangat pantas untuk direnungkan. Betapa tidak, jika kita memang bukan siapa-siapa maka kita harus membuat sesuatu kita harus meninggalkan karya sehingga ketika kita tiada kita dapat dikenang oleh anak cucu dan khalayak. Melalui tulisan itu kita tinggalkan jejak langkah kita. Maka marilah kita menulis. Lagi-lagi, perihal menulis itu landasannya ditemukan dalam Quran dan Hadist Nabi.

Secara lengkap dapat dilihat dari uraian Imam Asy-Sya’bi “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekalipun di tembok”. Imam Syafi’I Rahimahullah juga pernah bertutur “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja”. Jadi ilmu diibaratkan seperti hewan buruan (kijang) apabila tidak diikat akan terlepas. Begitu pula dengan ilmu apabila tidak ditulis maka akan hilang atau tidak diingat dikarenakan daya ingat manusia terbatas.

Menurut Hadist Rasululah SAW “Qoyyidul ilma bilkitabi” yang berarti kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Firman Allah dalam Al-Quran dalam surah Al-Baqaroh 285 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”. Jadi menulislah. Apalagi alasan yang akan disampaikan? apakah masih kurang kuat untuk membuat kita tidak belajar menulis dari sekarang?

Barangkali ada beberapa orang yang bertanya apakah masih penting menulis di era you tube dan tiktok dewasa ini? Tentu tetap penting. Hal yang sangat dirasakan oleh Narasum terlebih setelah buku-buku karangannya terbit, menulis itu seperti candu. Semakin kita memiliki banyak karya, semakin kita kecanduan untuk menulis. Hal lain yang dirasakan Narasum setelah menjadi penulis adalah pandangan masyarakat terhadap dirinya. Penulis itu keren, Penulis itu terhormat di mata masyarakat kita. Ini yang Narasumber rasakan setelah menjadi penulis buku. Mari kita menulis. Menulis dari hal kecil. Menulis apa yang dirasakan. Seperti saat ini, setialah menulis tugas resume dengan cepat dan baik.

Terimakasih Ibu Narsum Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H. semoga saya bisa melakukannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer