Refleksi Hari Pertama Belajar Menulis
Tiga huruf pertama yang membawa pada langkah penulisan adalah why. Mengapa saya menulis? Kata singkat itu membawa pada kajian yang mendalam ketika saya menelusuri sampai kerelung hati dan pikiran yang terdalam. Barangkali kesenangan saya menulis sudah ada sejak kecil namun itu tidak saya sadari. Ketika ada di bangku sekolah dasar saya pernah memenangkan sebuah kejuaraan. Juara pertama mengarang tingkat SD. Sepertinya kesenangan itu terus berlanjut sampai saat ini sekalipun lagi-lagi itu tidak disadari.
Dalam pengalaman harian seringkali orang meminta bantuan ketika menyusun kalimat dalam sebuah surat. Saya tidak mengerti mengapa orang selalu meminta bantuan dalam bidang itu. Kadang muncul rasa jengkel apalagi ketika sedang sibuk orang datang dan minta bantuan membuatkan atau mengeditkan tulisan (suratnya). Batin saya ngegrundel, gini saja tidak bisa. Barangkali lagi-lagi saya tidak menyadari bahwa ini adalah kemampuan menulis dan tidak semua orang sama kemampuan menulisnya.
Ketika sudah menjadi guru ada beberapa tulisan saya yang bisa masuk koran daerah. Senangnya bukan main karena selain dipuji orang juga mendapat bayaran. Hal itu membakar semangat untuk terus menulis. Namun keinginan itu tidak sekuat hambatan. Banyak sekali tulisan yang saya buat berhenti di tengah jalan. Entah karena saya simpan dahulu dan akhirnya lupa. Entah karena kehilangan ide di tengah-tengah. Entah karena setiap menulis selalu auto edit yang akhirnya semua dicoret karena terasa jelek.
Satu hal yang terus menyala adalah keinginan bisa menulis. Hal ini terasa terutama kalau ada penawaran pelatihan menulis, kuat sekali keinginan untuk mengikutinya. Namun lagi-lagi semangat itu selalu terkalahkan oleh rintangan. Pelatihan yang diikuti berakhir di tengan perjalanan. Bisa karena tugasnya tidak dikerjakan atau karena setelah beres pelatihan tidak ditindaklanjuti dengan berlatih munulis. Nyesek memang. Namun kali ini saya akan terjang semua rintangan itu. Rintangan yang datang dari dalam diri saya sendiri. Rintangan yang saya benci sekaligus saya manjakan.
Dalam pelatihan hari ini banyak sekali hal yang ditanyakan oleh peserta. Semuanya seputar apa dan bagaimana menulis itu. Lagi-lagi jika saya renungkan jawaban dari semua pertanyaan itu harus dijawab dengan menulis, menulis dan menulis. Hal ini tidak berlebihan karena secanggih apapun teori menulis ketika saya tidak menuliskannya maka itu hanya sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya, tak lebih dari sekedar pepesan kosong.
Jam sudah menunjukkan hampir sampai ke pukul 23.00 tapi saya tetap menulis tugas pertama ini sekalipun mata sudah mulai terasa berat, pikiran melayang ke segala penjuru dan mulai muncul rasa khawatir terlambat bangun di esok hari dan terlambat sampai di sekolah. Namun terus kupaksa untuk bisa menuntaskan tugas pertama ini dan akhirnya rintangan pertama bisa saya luluh lantahkan. Tulisan ini selesai dan saya kirimkan ke drive tugas yang sudah disediakan guru.
Terima kasih Tuhan.
Sangat menginspirasi...
BalasHapusKeren Bu. Semangat dan sehat selalu.
BalasHapusmantap u Elisa
BalasHapussemangat
Dengan untaian
BalasHapusTerimakasih Bapak Ibu semuanya. Menyemangati
BalasHapus