Refleksi Pembelajaran Menulis Kedua “Trik Cepat Membuat Resume”
Narsum Ibu Maesaroh, M.Pd.

Sangat menarik dan sangat alamiah apa yang dijelaskan Narasumber Ibu Maesaroh, M.Pd. tentang bagaimana membuat sebuah resume dengan cepat dan tepat. Satu hal yang menambat hati saya adalah perolehan hadiah yang didapat oleh Ibu narasumber terkait resume yang dibuat ketika mengikuti pelatihan. Sekian buku sudah didapat dua diantaranya  diperoleh karena kecocokan gaya menulis narasumber dengan pemberi hadiah. 

Memang benar kecocokan adalah kata kunci untuk bisa bersinergi satu sama lain dalam sebuah gerak kehidupan. Namun rasanya melelahkan mendengar kata kecocokan. Jika menengok pengalaman hidup ada banyak belenggu gegara kecocokan itu. Apakah kecocokan harus diabaikan? Tentu tidak. Namun terasa lelah ketika harus selalu berada pada posisi harus mencocokkan. Letih.


 Ketika saya menulis tugas ini ada terlintas keinginan mendapat hadiah. Apapun bentuknya hadiah itu sangat menggembirakan karena hadiah semacam bukti diri berprestasi. Mampu menjadi terdepan dibanding yang lain. Namun kali ini saya coba abaikan hal itu sebab hadiah itu selain menjadi pendorong, ternyata mampu menjadi semacam belenggu juga. Mengungkung untaian kata menjadi kalimat. Mengungkung kalimat menjadi paragraf dan akhirnya mengungkung paragraf menjadi resume. Mengabaikan kecocokkan.

Kali ini saya robek belenggu itu. Saya hendak menjadi diri sendiri. Diri yang sedang belajar menulis. Belajar mengotentikkan diri dalam kata dan kalimat. Akan saya buang jauh-jauh menjadi orang lain. Tidak apa tidak mendapat hadiah. Menjadi penulis yang andal tujuan akhir saya. Jika dalam hati dan pikiran saya menggema “hadiah adalah prestasi, hadiah adalah pengakuan atas kehebatan” akan saya buang jauh-jauh. Saya mau menjadi diri saya sendiri sekalipun resiko menjadi orang yang tidak populer. Biarlah. Itu sebuah konsekuensi diri.

Kini saya menulis resume itu. Terngiang Ibu narasumber menyampaikan bahwa menulis itu harus konsisten. Konsisten untuk terus menulis. Tidak ada alasan apapun jika hendak menjadi penulis ulung. Buatlah waktu khusus yang rutin dalam menulis misalnya dikala pajar akan menyingsing. Waktu-waktu seperti itu sangat baik dalam menggali ide-ide penulisan yang akan diluncurkan dalam deretan kalimat. Hal penting lainnya adalah membangun rasa percaya diri. Hal ini sangatlah benar. Tanpa rasa percaya diri yang cukup apapun ide yang muncul apapun tulisan yang ditorehkan akan dibantai oleh diri sendiri. 

Rasa percaya diri itu seakan menjadi pondasi dalam laju sebuah penulisan. Sepertinya motto “bebaskan diri dalam menulis” sangat cocok bagi para penulis pemula yang hendak  membuat karya tulis namun maju mundur ketika hendak berkarya. Percaya dirilah. Menulislah.

Terimakasih Ibu Maesaroh, M.Pd.


Komentar

  1. Saya sdh Baca resume bapak/ibu dari resume 1 sampai 10. Ini berbeda, Ada pesan yang disampaikan penulis slain materi yang disampaikan. Luar biasa.

    BalasHapus
  2. keren luar biasa ini tulisannya bu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer