kiat menulis cerita fiksi

Resume ke-11

Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber : Pak Sudomo, S.Pt


B

apak Sudomo, S.Pt. adalah narasumber dalam pelatihan hari ini. Tema yang dibawakannya yaitu “Kiat Menulis Cerita Fiksi”. Narsum merupakan salah satu alumni dari Belajar Menulis gelombang 16 dan resumenya itu sangat viral gara gara ditulis dalam bertuk cerita fiksi. Menurut Narsum awalnya Beliau merasa minder karena merasa berbeda dengan orang lain. Mengapa menulis seperti itu? Narsum hanya melakukan sesuatu dengan cara yang disukai dan dikuasai. Resume itu di luar ekspekstasi Narsum karena ternyata mendapat respon luar biasa dari pembaca.

Berawal dari passion Narsum mulai menekuni penulisan cerita fiksi. Kemudian mulailah bergabung dengan kelas-kelas menulis fiksi sampai pernah lolos dalam seleksi  workshop menulis cerpen Kompas. Akhirnya di tahun 2009 bergabunglah dengan komunitas menulis fiksi, mengikuti berbagai kompetisi, dan akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan tulisan fiksi.

Pertanyaan awal yang harus dijawab dengan jujur oleh para penulis fiksi adalah "Mengapa kita harus menulis fiksi?" Pertanyaan ini penting karena menjadi motivasi kita untuk mulai menulis fiksi. Menurut Narsum beberapa alasan penting di antaranya terkait dengan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Salah satu komponen dalam AKM atau ANBK adalah literasi, yaitu teks literasi fiksi. Dengan mampu menulis cerita fiksi, seorang guru tentu akan lebih mudah membuat soal latihan AKM untuk muridnya. Setidaknya guru tidak hanya mengandalkan soal latihan dari internet. Namun, guru bisa membuatnya sendiri untuk kebutuhan sehari-hari dalam mengajar.

Untuk mengetahui cara membuat cerita fiksi, tentu harus memperhatikan hal-hal terkait menulis fiksi. Apa saja? Secara umum sama dengan syarat-syarat menulis bentuk lainnya. Bedanya terletak pada kebiasaan kita sebagai penulis untuk mengembangkan imajinasi. Disamping itu ada latar, penokohan, peristiwa dan lainnya yang masuk pada unsur pembentuk cerita fiksi seperti tema, premis, latar/setting, tokoh, alur/plot, dan sudut pandang.

Bentuk cerita fiksi bermacam-macam. Yang umum kita kenal adalah cerpen dan novel. Bentuk cerita fiksi kebanyakan perbedaannya terletak pada jumlah kata dan kompleksitas konflik cerita. Cerpen biasanya hanya satu konflik, sedangkan novel lebih rumit konfliknya. Bentuk-bentuk lain masih banyak lagi. Ada fiksimini, flashfiction, pentigraf, novelet, novela. Narsum sendiri menulis fiksi berawal dari fiksimini, yaitu fiksi singkat beberapa kata, tetapi merupakan cerita utuh.

Seperti disebutkan di atas ada unsur-unsur pembentuk cerita fiksi di antaranya tema, premis, latar/setting, tokoh, alur/plot, dan sudut pandang. Tema adalah ide pokok cerita. Tips menentukan tema yaitu mengambil sesuatu yang dekat dengan penulis, yang menarik perhatian penulis, bahannya mudah diperoleh serta lingkup terbatas. Cara menentukan tema yaitu menyesuaikan dengan minat, mengangkat kehidupan nyata, berimajinasi, membaca, dan mendengarkan curahan hati. Contoh tema misalnya “berkah kejujuran, pendidikan, kemiskinan, persahabatan tiga anak SD, pengalaman siswa selama belajar di rumah, perjuangan guru selama PJJ”.

Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Unsur-unsur premis yaitu karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi. Cara membuat premis dengan menulis masing-masing unsur pembentuknya kemudian rangkai menjadi satu kalimat utuh. Contoh premis misalnya seorang anak SD mengajak dua orang temannya melakukan perjalanan ke rumah kakeknya, berusaha memperoleh pemahaman tentang materi IPA

Alur/Plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita. Macam-macam alur yaitu alur maju, alur mundur, alur campuran, dan alur kronologis. Unsur-unsur alur/plot adalah pengenalan cerita, awal konflik, menuju konflik, konflik memuncak/klimaks. Penyelesaian/ending bergantung pada  unsur-unsur alur/plot tersebut, urutannya bisa diubah tergantung pada jenis alur yang dipilih.

Penokohan yaitu penjelasan selangkah demi selangkah detail karakter dalam cerita. Macam-macam tokoh adalah protagonis, antagonis, dan tritagonis. Teknik penggambaran tokoh dapat berupa analitik, fisik, perilaku tokoh, lingkungan tokoh, tata bahasa tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lain.

Latar/Setting merupakan penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita. Jenis-jenis latar yaitu latar waktu, latar tempat, latar suasana, latar sosial, latar material, dan latar integral.

Sudut Pandang merupakan cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang diwujudkan dalam pandangan tokoh cerita. Macam-macam sudut pandang dilihat dari orang pertama tunggal, orang pertama jamak, orang kedua, orang ketiga tunggal, orang ketiga jamak, dan campuran.

Lalu bagaimana proses kreatif menulis cerita fiksi? Pertama, niat. Niat adalah motivasi diri untuk memulai dan menyelesaikan tulisan. Kedua, baca Fiksi orang lain. Hal ini sebagai upaya menemukan bahan belajar/referensi berupa ide, pemilihan kata, serta gaya dan teknik penulisan serta bagaimana mengkreasikan semua  unsur di atas jadi cerita fiksi.  Ketiga, ide dan genre. Segera catat saat ide mendadak muncul. Ide ditemukan dengan cara mengembangkan imajinasi. Pemilihan genre disesuaikan dengan yang disukai dan dikuasai.

Keempat, buat outline atau kerangka. Hal ini disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi, menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita, membuat premis sesuai tema, menentukan uraian alur/plot berdasarkan unsur-unsurnya, menentukan penokohan kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik, nenentukan latar/setting dengan menunjukkan sisi eksotis dan detail, memilih sudut pandang penceritaan yang unik

Kelima, menulislah. Bukalah cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik atau konflik), lakukan pengenalan tokoh dan latar dengan yang baik dengan cara memaparkan secara jelas kepada pembaca, menguatkan sisi konflik internal dan eksternal tokoh, menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika dan memperkuat imajinasi, memilih susunan kalimat yang pendek dan jelas, memperkuat tulisan dengan pemilihan kata (diksi) dan buatlah ending yang baik.

Keenam, swasunting. Ini dilakukan setelah selesai menulis. Jangan menulis sambil mengedit. Fokuskan penyuntingan pada kesalahan pengetikan, pemakaian kata baku, istilah, aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita. Usahakan menempatkan diri pada posisi sebagai penyunting agar bisa menyunting tulisan sendiri. Jangan lupa menyiapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Dan ada satu trik agar cerita yang kita buat seru dan enak dibaca yaitu dengan melibatkan pembaca dalam tulisan kita. Teknik ini bisa menggunakan cara show don't tell.

 

 

Komentar

Postingan Populer