mengenal penerbit indie

 Resume ke-17

MENGENAL PENERBIT INDIE

Narasumber : Mukminin, S.Pd,.M.Pd.

            

Hari ini merupakan pertemuan ke-17. Narasumber yang akan menyampaikan materi adalah Bapak Mukminin, S.Pd.,M.Pd. atau akrab disapa Cak Inin . Beliau adalah   narasumber penerbit indie dan pernah satu kelas dengan moderator malam ini yaitu Ibu Aam. Cak Inin belajar menulis dari nol. Di usia 55 tahun di gelombang delapan bulan Maret 2020 mulai bergabung dalam pelatihan menulis, bersama Bu Noralia Purwa Yunita, Bu Aam, Pak Julius Roma Patandean, Mayor Nani, Om Bambang, Pak Suharto / Cing Ato, yang sukses dalam dunia penulisan dan menjadi Nara Sumber pula. Buku solo perdananya yang telah terbit yaitu "55 Pantun Nesehat". Pantun yang ada dalam buku tersebut dikerjakan dengan kebut tiga minggu. Buku ini sbg hadiah ulang tahun Beliau yang ke 55 tahun.

Hasil resume kuliah online bersama Om Jay dan PGRI pada gelombang delapan telah terbit menjadi buku yg cukup keren dan alhamdulillah menjadi buku laris manis sampai hari ini dengan judul "Jurus Jitu Menjadi Penulis Andal Bersama Pakar". Selain itu di gelombang delapan dibuat kenangan buku Antologi yang diedit Bu Noralia dan Cak Inin terbitkan di penerbitannya; Kimila press Lamongan. Selama dua tahun Beliau telah menerbitkan tiga buku solo, 11 buku antologi dan  satu buku Duwet dg Ibu Noralia Purwa Yunita yang terbit tiga bulan yang lalu yang katanya alhamdulillah laris manis juga.

Menurut Beliau di zaman melinial ini semua orang bisa menulis dan menerbitkan buku. Baik sebagai pelajar, mahasiswa, pegawai, guru, dosen, maupun wiraswasta. Menulis dan menerbitkan buku itu mudah, tidak serumit yang kita bayangkan. Apalagi sebagai seorang guru pasti bisa menulis baik fiksi maupun karya ilmiah. Guru memiliki bayak kisah dan pengalaman inspiratif. Hal itu perlu ditulis dan disusun menjadi buku yang diterbitkan karena bisa bermanfaat bagi orang lain yang membacanya.

Untuk bisa terlatih menulis memang butuh ketekunan dan perjuangan. Selain itu, perlu juga tekad dan motivasi tinggi agar tidak goyah saat menjalani proses menulis. Berbicara motivasi, ada banyak kata-kata agar kita terus semangat menulis sehingga sukses dalam karya penulisan. Kata-kata Mutiara itu misalnya seperti ini, "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak". - Ali bin Abi Thalib. "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis". - Imam Al-Ghazali.

Untuk mewujudkan itu  memang butuh ketekunan,  perjuangan dan juga tekad serta  motivasi tinggi agar tidak goyah saat menjalani proses menulis. Ada tahapan dalam menulis dan menerbitkan buku yang tepat. Lima tahapan itu, Pertama, Prawriting yaitu tahap awal penulis mencari ide. Ide apa yang akan ditulis.  Hal ini mengharuskan kita sebagai penulis kreatif dalam menangkap fenomena yg terjadi di sekitar sehingga dapat menjadi tulisan dan penulis itu harus banyak membaca buku.

Kedua, Drafting. Penulis mulai menulis naskah buku sesuai  dengan apa yang dia sukai (pasion). Boleh menulis artikel, cerpen, puisi, novel dan sebagainya dengan penuh kreatif. Kreatif merangkai kata, menggunakan majas, dan berekpresi untuk menarik pembaca. Ketiga, Revisi. Setelah naskah selesai maka kita lakukan revisi naskah. Merevisi tulisan mana yang baik untuk dicantumkan, naskah mana yang perlu dibuang atau naskah mana yg perlu ditambahkan.

Keempat, Editting/ Swasunting. Setelah naskah kita revisi maka masuk tahapan editting. Penulis melakukan pengeditan. Hanya memperbaiki berbagai kesalahan tanda baca, kesalahan pada kalimat. Tahap ini boleh dikatakan sebagai "Swasunting" yaitu menyunting tulisan sendiri sebelum masuk penerbit. Maka penulis dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EBBI. Kelima, Publikasi. Jika tulisan kita yang berupa naskah buku sudah yakin maka kita memasuki tahap publikasi atau penerbitan  buku. Pertanyaannya apakah kita sudah mempunyai pandangan penerbit mana yang akan menerbitkan buku kita? Jawabnya adalah penerbit Independen ( penerbit Indie). Di dalam grup ini ada empat penerbit indie yaitu Oase, Gemala, YPTD dan Kamlia Press Lamongan.

Penerbit buku ada macam. Pertama, penerbit Mayor dan kedua penerbit Indie. Apa perbedaanya? Mari kita ikuti uraian berikut ini  :

1.  Jumlah Cetakan. Penerbit mayor  mencetak bukunya secara masal. Biasanya cetakan pertama  sekitar 3000 eksemplar atau minimal 1000 eksemplar untuk dijual di toko-toko buku. Sementara di penerbit Indie hanya mencetak buku apabila ada yang memesan atau cetak berkala yang dikenal dengan POD ( Print on Demand) yang umumnya didistribusikan melalui media online Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WA grup dll.

2.  Pemilihan Naskah yang Diterbitkan. Di penerbit mayor naskah harus melewati beberapa tahap prosedur sebelum diterbitkan. Tentu saja, menyambung dari poin yang pertama, penerbit mayor mencetak bukunya secara masal 1000 - 3000 eksemplar. Mereka ekstra hati-hati dalam memilih naskah yang akan mereka terbitkan dan tidak akan berani mengambil resiko untuk menerbitkan setiap naskah yang mereka terima. Penerbit mayor memiliki syarat yang semakin ketat, harus mengikuti selera pasar, dan tingginya tingkat penolakan.

Di penerbit indie tidak ada penolakan naskah. Selama naskah tersebut sebuah karya yang layak diterbitkan; tidak melanggar undang-undang hak cipta karya sendiri, tidak plagiat, serta tidak menyinggung unsur SARA dan pornografi. Naskah tersebut pasti kami terbitkan.

3.  Profesionalitas. Penerbit mayor tentu saja profesional dengan banyaknya dukungan SDM di perusahaan besar mereka. Penerbit indie pun profesional, tapi sering disalah artikan. Banyak sekali anggapan menerbitkan buku di penerbit indie asal-asalan, asal cetak-jadi-jual. Sebagai penulis, harus jeli memilih siapa yang akan jadi penerbit Bapak Ibu dan Saudara-saudara. Jangan tergoda dengan paket penerbitan murah, tapi kualitas masih belum jelas. Mutu dan manajemen pemasaran buku bisa menjadi ukuran penilaian awal sebuah penerbitan. Kadang murah Cover kurang bagus, kertas dalam coklat kasar bukan bookpaper ( kertas coklat halus). Harus tetap terjaga mutu cover (bagus cerah mengkilat) dan isi buku dari kertas cokal halus awet (bookpapar).

4.  Waktu Penerbitan. Di penerbit mayor umumnya sebuah naskah diterima atau ditolak akan dikonfirmasi dalam tempo 1-3 bulan. Jika naskah diterima, ada giliran atau waktu terbit yang bisa cepat, tapi ada juga yang sampai bertahun-tahun. Karena penerbit mayor adalah sebuah penerbit besar, banyak sekali alur kerja yang harus mereka lalui. Bersyukur kalau buku bisa cepat didistribusikan di semua toko buku. Namun, jika dalam waktu yang ditentukan penjualan buku tidak sesuai target, maka buku akan dilepas oleh distributor dan ditarik kembali oleh penerbit.

Di penerbit indie tentu berbeda. Mereka akan segera memproses naskah yang diterima dengan cepat. Dalam hitungan minggu bukumu sudah bisa terbit. Karena memang, penerbit indie tidak fokus pada selera pasar yang banyak menuntut ini dan itu. Indie menerbitkan karya yang penulisnya yakin karya tersebut adalah karya terbaiknya dan layak diterbitkan sehingga Indie tidak memiliki pertimbangan rumit dalam menerbitkan buku.

5.  Royalti. Penerbit mayor kebanyakan mematok royalti penulis maksimal 10% dari total penjualan. Biasanya dikirim kepada penulis setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan penjualan buku. Sementara di penerbit indie umumnya royalti diberikan sebanyak 15-20%  dari harga buku. Dipasarkan dan dijual penulis lewat fb, Instagram, wa grup, Twitter, status, dll

6. Biaya penerbitan. Di penerbit mayor biaya penerbitan gratis. Itulah sebabnya mereka tidak bisa langsung menerbitkan buku begitu saja sekalipun buku tersebut dinilai bagus oleh mereka. Seperti yang sudah disebut di atas, penerbit mayor memiliki pertimbangan dan tuntutan yang banyak untuk menerbitkan sebuah buku karena jika buku tersebut tidak laku terjual, kerugian hanya ada di pihak penerbit. Di penerbit indie beiaya penerbitan berbayar (sesuai dg aturan masing-masing penerbit). Antara penerbit satu dengan yang  lain berbeda. Karena pelayanan dan mutu buku yg diterbitkan tidak sama.

Sebagai sebuah contoh kita belajar dari sebuah penerbitan indie; Penerbitan KAMILA PRESS LAMONGAN. KAMILA PRESS LAMONGAN melayani cetak buku, dengan jasa ISBN,  editing,  Lay out, dan  design cover buku  dengan harga terjangkau. Syarat-syarat penerbitan di KAMILA PRESS LAMONGAN:

1. Kirimkan naskah lengkap mulai judul, kata pengantar, daftar isi, naskah, daftar pustaka, biodata penulis dg fotonya dan Sinopsis

2. Ketik  A5 ukurannya 14,8 x 21 cm, spasi 1,15 ukuran fon 11 dan margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. Gunakan huruf arial, calibri atau  Cambria dan masukkan dalam 1 file kirim ke WA sy atau email gusmukminin@gmail.com

Rincian biaya cetak buku  TERBARU di KAMILA PRESS LAMONGAN (hub. hp/wa Mukminin, 081330944498):

Biaya Cetak buku  A5, kertas "Bookpapar (coklat halus)", termasuk biaya ISBN, Layuot, edit, cover buku:

A. 60 halaman : Cetak 5 buku/ eksp. =  566.000. Cetak 10 buku/ eksp. =  632.000, plus ongkir

B. 70 hlm : Cetak 5 buku = 570.000. Cetak 10 buku = 650.000, Plus Ongkir

C. 85 hlm: Cetak 5 buku = 580.000. Cetak 10 buku = 660.000.

D. 90 hlm: Cetak 5 buku = 600.000. Cetak 10 Buku = 715.000

E. 100 hlm : Cetak 5 buku = 635.000. Cetak 10.Buku = 725.000

F. 125 hlm : Cetak 5 buku = 650.000. Cetak 10 buku = 751.000

G. 150 hlm : Cetak 5 buku = 665.000. Cetak 10 buku = 800.000

H. 200 hlm : Cetak 5 buku = 695.000. Cetak 10 buku = 841.000

I. 250 hlm : Cetak 5 buku = 725.000. Cetak 10 buku = 900.000

J. 300 hlm : Cetak 5 buku = 753.000. Cetak 10 buku = 957.000

 

SETELAH CETAK 10 BUKU DENGAN JUMLAH HALAMAN DAN HARGA TERSEBUT,

Lebihnya dihitung harga cetak ulang :

1.  Cetak buku 60 hlm Harga @ 20.000

2. Cetak buku 70-75  hlm harga  @21.000

3. Cetak buku 100 hlm. Harga @ 23.500

4. Cetak buku 140 hlm harga @ 27.000

5. Cetak buku 150 hlm @ 30.000

6. Cetak buku   250 hlm. Harga @ 40.000

7. Cetak buku  300 hlm. Harga @  45.000

 

Catatan Tambahan:

Untuk buku antalogi pembagian royaltinya ditentukan “sendiri” sebab  buku antologi itu dikerjakan keroyokan yang beli anggota sendiri. Jika ada yg beli maka lewat penulis masing-masing. Penerbit tidak menjualkan. Silakan masing-masing penulis menjual sendiri-sendiri.

Untuk buku solo yang diterbitkan di penerbit indie  hitungan seperti ini, karena utk penulis solo. Bapak membayar biaya cetak sesuai tabel di atas. Yg jual bapak sendiri penerbit hanya ikut promo, hasilnya (sisa dari biaya terbit) silakan dinikmati penulis sendiri.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer