menulis dikala sakit
Resume Ke-19
MENULIS DIKALA SAKIT
Narasumber : Suharto, S.Ag.,M.Pd.
Narasumber malam ini adalah Bapak Suharto, S. Ag., M. Pd. Beliau akrab disapa Cing Ato. Adapun materi yang akan dibawakannya adalah "Menulis dikala Sakit". Dari curriculum vitaenya kita tahu bahwa Beliau sangat aktif dalam dunia penulisan. Dimulai dari mengikuti pelatihan-pelatihan menulis sampai melahirkan beberapa buku solo dan banyak buku antologi. Beliau juga berstatus sebagai guru PNS di MTsN 5 Jakarta sebagai guru Fikih. Selain itu Narsum aktif pula di medsos.
Dari penuturannya Narsum mengisahkan perjalanan menulisnya. Keinginan untuk menulis sudah sejak lama dirasakannya. Narsum berusaha membeli buku tentang tulis-menulis. Ikut acara jurnalis. Pernah mengikuti undangan untuk menulis sekalipun hasil tulisannya mendapat komentar masih kaku dan kering. Narsum menyadari memang masih memiliki kesulitan dalam merangkai kata menjadi sebuah kalimat. Apalagi kalimat indah yang bertabur diksi penuh hikmat. Namun Narsum tidak pernah putus asa. Narsum terus belajar sesuai dengan motto hidupnya “belajar, belajar dan belajar”.
Di saat buming literasi di sekolah dan madrasah Narsum menyaksikan peserta didik di hari tertentu diwajibkan membaca buku. Beberapa siswa dilibatkan dalam tulis-menulis. Akhirnya terwujudlah sebuah buku antologi sebagai buah dari literasi menulis. Dari situlah Narsum tertarik untuk menulis. Kebetulan Narsum sudah gemar membaca. Menulis itu identik dengan membaca. Jangan berpikir akan menjadi penulis kalau malas membaca. Dicobalah dicari wadah pelatihan menulis. Narsum buka facebook, didapati ada pelatihan menulis KSGN di wisma UNJ. Di sinilah Narsum kenal dengan pak Namin, Om Jay, Om Dedi, dan lainnya hingga Narsum sering dibawa mengikuti kegiatan dalam menulis.
Narsum mulai mengetahui cara menulis. Terngiang-ngiang apa yang disampaikan oleh Om Jay."Tulis apa yang ada disekitar kita, tulis yang sederhana dahulu, tulis yang kamu bisa dan kuasai, serta mulailah menulis apa yang kamu alami dan rasakan" itulah sepenggal kalimat yang sangat membekas di hati Narsum sampai sekarang. Motto Om Jay "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi" memotivasi Narsum untuk selalu menulis. Kemudian Narsum membuat turunannya "Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi".
Tak berhenti di situ Narsum kembali berguru tentang penulisan pada group Media Guru sekalipun buku ontologi pertama sudah Narsum lahirkan, 2016, dan dari sanalah lahir buku solo perdana "Mengejar Azan" yang menceritakan tentang perjalanan menuntut ilmu. Dasar ilmu penulisannya tetap dari Om Jay hanya dipoles oleh media guru. Kebahagiaan tak terkira pada saat itu, mempunyai kebanggaan tersendiri mempunyai karya sendiri. Sehingga karya perdana itu Narsum abadikan dengan minta bantuan pelukis untuk melukisnya.
Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Tetiba badai tornado menghantam dengan dahsyatnya. Tubuh Narsum yang tadinya tinggi, gagah, ganteng dengan sekejap mata lumpuh total tak berdaya, hanya menyisakan mata, telinga, dan otak. Bahkan napas pun tidak bisa. Jika tidak cepat ditangani barangkali sudah Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.
1,5 bulan di ruang ICU, 3 bulan di ruang HCU, 2 Minggu di ruang inap biasa. Pulang dalam kondisi lumpuh. Satu tahun badan tak bergerak, setelah satu tahun mulai ada gerakan tangan, butuh enam bulan tangan kiri bisa memegang wajah, lalu disusul tangan kanan. Jari tangan masih kaku dan tidak bisa menggenggam, untuk menekan remot saja tidak mampu. 1.5 tahun hanya berbaring dan terkadang suntuk menghampiri. 1.5 tahun putus dengan dunia luar, tidak tahu perkembangan dunia luar seperti apa.
Suatu hari handphone istri Narsum tertinggal dan berdering. Narsum minta asisten rumah tangga untuk mengambilnya dan meletakkan di atas dadanya. Narsum mencoba untuk menyentuh, Alhamdulillah, bisa terbuka. Dalam hati kecilnya berkata “ke mana ya, handphone milik saya, sudah 1,5 tahun lepas dari saya”. Ketika istrinya pulang dari sekolah, Narsum minta Hpnya dan sekaligus minta dibelikan kartu baru. Karena yang lama mati. Tak pikir panjang istrinya mencari HPnya dan membelikan kartu baru. Terasa kembali hidup. Narsum berusaha menggunakan HP walau tidak bisa menggenggam, cukup beli alat HP lalu disangkutkan pada jari jempol tangan kiri dan menulis menggunakan jari tengah. Jari manis dan kelingking tertekuk hingga tidak menghalanginya untuk menulis. Karena jari tengah yang terpanjang, maka Narsum gunakan untuk mengetik.
Mulailah melacak akun Facebooknya. Dibutuhkan waktu 3 hari untuk mendapatkannya. Alhamdulillah, sejak itu Narsum memposting kondisinya, hingga banyak simpati dan empati berdatangan. Muncul pertanyaan dalam hatinya “Mengapa saya tidak menulis sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak”. Akhirnya Narsum menulis apa yang pernah dibacanya, dilihatnya, dan yang pernah didengarnya. Narsum senang dengan motivasi, maka Narsum hampir setiap hari menulis artikel sederhana tentang motivasi hidup. Di samping juga menulis tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Saking asyiknya menulis Narsum sampai lupa bahwa dirinya sedang sakit. Perlahan tapi pasti ternyata ada progres yang menggembirakan, tubuhnya mulai bisa digerakkan satu persatu. Terkait dengan tulisan-tulisannya respon positif berdatangan, hingga banyak yang membaca bahkan selalu menunggu tulisan berikutnya. Narsum pun tambah semangat. Sehingga tidak tidur sebelum ketemu bahan untuk ditulis besok. Setiap habis salat subuh hingga jam 7 Narsum menulis. Menulis sambil rebahan di atas kasur. Setelah bisa duduk baru Narsum menulis di atas roda. Narsum menulis di mana saja. Terkadang di atas kasur, di luar rumah ketika menjemur badan, di mobil sambil menikmati macetnya arus lalulintas, di rumah sakit sambil nunggu panggilan dokter. Ya, pokoknya di mana saja Narsum menulis. Bahkan ketika sedang terapi pun Narsum suka menulis.
Di tengah kondisi seperti itu ada sahabat (Om Jay) menghubunginya lewat whatsApp dan vicol. Om Jay mengajak Narsum untuk ikut pelatihan menulis. Walau dalam serba keterbatasan dan leher masih memakai alat trakeastomi dan hidung masih memakai NGT untuk selang makan Narsum menyatakan ikut. Kalau lelah dan pusing Narsum tidak ikut, tapi materinya selalu disimpan diaplikasi catatan. Aplikasi catatan yang ada di HP itu tempat Narsum menulis setelah itu baru Narsum share ke blog dan Facebook. Narsum pindahkan tulisan yang ada di blog dan Facebook ke laptop. Narsum kelompokkan sesuai tema yang diinginkannya.
Dalam kondisi kesehatan yang serba keterbatasan, memegang buku saja susah, begitu juga membuka buku. Dengan bantuan istri, anak, dan asisten rumah tangga, Narsum bisa membaca buku untuk memperkaya tulisannya. Lalu dieditnya hingga menjadi sebuah buku. Untuk mempertajam tulisannya Narsum berguru dengan pak Akbar Zaenudin penulis buku best seller Man Jadda wa Wajada. Jadilah sebuah buku motivasi. Dari sinilah lahir buku demi buku secara estapet. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Kemustahilan versus realita berwujud keniscayaan. Kalau kita ingin belajar, belajar, dan belajar pasti kita bisa.
Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi. Turunan kalimat dari Om Jay ini mujarab. Kalimat ini sebagai penyemangat Narsum, sekaligus Narsum pun ingin membangkitkan dan mengajak teman untuk menulis. Walau terkadang dinyinyiri Narsum tetap maju pantang surut ke belakang. Karena Narsum ingat pesan Om Dedi "Ingat apa yang menurut kita bagus belum tentu orang lain menerima" artinya terus berjuang. Apa yang terjadi? Akhirnya teman Narsum satu persatu mengikutinya. Mereka sekarang sudah mempunyai karya, bahkan murid Narsum pun mengikuti dan sudah menghasilkan karya. Begitu juga teman-teman di medsos, mereka menulis karena terinspirasi dari Narsum. Mengharukan....
Jadi ayo menulis. Jangan takut untuk menulis. Jangan menunggu pintar baru menulis, menulis saja dahulu nanti pasti pintar. Awali menulis yang sederhana, yang kita bisa dan yang kita kuasai. Mulailah menulis dengan apa yang kita alami dan rasakan, itu lebih mudah. Untuk memperkaya tulisan kita, Narsum mempersilahkan membaca tulisan-tulisan karya orang lain.
Luar biasa materi Cing Ato. Nangis Saya. Malu sehat tapi tak semangat belajar, nulis dan ibadah. Moga kita semua bisa bersyukur atas nikmat Allah SWT. Aamiin.
BalasHapusAmiin. Betul Pak Dail, sangat luar biasa Cing Ato.
Hapus