proofreading sebelum menerbitkan tulisan

Resume ke-13

PROOFREADING SEBELUM MENERBITKAN TULISAN

Narasumber : Susanto, S.Pd.

                

Bapak Susanto, S.Pd. sebagai Narasumber yang didampingi moderator Ibu Rosminiyati terlebih dahulu menyampaikan tujuan dari pembelajaran kali ini. Bahwa setelah membaca, menyimak, dan/atau menyaksikan video tentang proofreading dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, peserta KulWap dapat:

1. Menjelaskan pengertian proofreading

2. Menjelaskan hal-hal yang menjadi objek proofreading

3. Melakukan proofreading menggunakan KBBI dan PUEBI Daring sebagai alatnya.

Jika ketiga tujuan di atas sudah dikuasai, Narsum berkeyakinan tidak perlu mengikuti pelatihan ini lagi.

Proofreading atau kadang disebut dengan uji-baca adalah membaca ulang sebuah tulisan, tujuannya adalah untuk memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks tersebut. Kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah hingga pemenggalan kata. Jadi, tugas seorang proofreader bukan hanya membetulkan ejaan atau tanda baca. Seorang proofreader juga harus bisa memastikan bahwa tulisan yang sedang ia uji-baca bisa diterima logika dan dipahami.

Proofreader harus dapat mengenali apakah sebuah kalimat efektif atau tidak, susunannya sudah tepat atau belum, substansi sebuah tulisan dapat dipahami oleh pembaca atau tidak. Mengapa harus melakukan proofreading? Pertama, Proofreading oleh penulis. Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan. Oleh karena itu, kegiatan ini sesungguhnya adalah kegiatan akhir setelah tulisan diselesaikan.

Lakukan proofreading HANYA DAN HANYA JIKA tulisan sudah selesai, naskah buku sudah selesai. Para Guru Menulis, selalu menasihati, “Tulis saja, jangan pedulikan teknis. Salah nggak apa-apa mumpung ide masih mengalir. Jika sudah selesai, barulah kita lakukan editing." Jika proofreading dilakukan oleh penulis, kapan melakukannya? Jika naskah sudah selesai, lakukan proofreading setelah naskah diendapkan beberapa “saat”. Terjemahan "saat" bisa hitungan jam atau hari. Dimaksudkan agar dapat objektif.

Kedua, Proofreading oleh "orang lain". Jika proofreading dilakukan oleh penulis setelah naskah diendapkan, maka ketika melakukannya, kita bertindak sebagai "CALON PEMBACA". Adapun langkahnya:

Langkah pertama, dengan merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian.

Langkah kedua, merevisi penggunaan bahasa: kata, frasa dan kalimat serta susunan paragraf untuk meningkatkan aliran teks.

Langkah ketiga, memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya, memperbaiki kalimat kalimat yang ambigu.

Langkah keempat, yaitu:

1.  Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI & PUEBI, tetapi ada beberapa kata yang
   mencerminkan gaya penerbit

2.  Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI

3.  Konsistensi nama dan ketentuannya

4.  Perhatikan judul bab dan penomorannya

Seluruh ketentuan di atas berlaku untuk semua naskah, termasuk naskah tulisan di BLOG. Jika kita seorang blogger (karena pelatihan di kelas ini mempublikasikan resume di blog) hindari kesalahan yang tidak perlu misalnya typo atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata. Sedikit bahkan tidak adanya kesalahan penulisan (typo) akan membuat pembaca nyaman.

Kesalahan lain misalnya, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya. Untuk itu, penulis mestilah menguasai EYD (sekarang PUEBI) dan kata-kata baku di KBBI.

Setelah tulisan di blog selesai, buka jendela draft, dan buka juga jendela pratinjau. Baca tulisan pada jendela pratinjau. Jika ada kesalahan penulisan, blok kata yang salah lalu di copy. Setelah itu buka jendela draft, tekan tombol CTRL + F. Tempelkan salinan tadi di kolom pencarian CTRL + V dan akan muncul highlight tulisan, kita lakukan perbaikan, setelah itu klik tombol simpan atau CTRL + S. Buka jendela pratinjau, kemudian refresh atau tekan tombol F5. Begitu ilustasinya, namun Narsum menggunakan Wordpress dengan mode penulisan Classik dan sayangnya Narsum juga tidak menyisipkan suara.

Dengan kata lain agar tulisan kita nyaman dibaca dan informasi/pesan yang ingin kita sampaikan dapat dipahami dengan baik oleh pembaca, kita perlu melakukan proofreading baik oleh diri sendiri maupun orang lain dalam rangka melakukan perbaikan sebelum tulisan diterbitkan, dengan menggunakan KBBI dan PUEBI.

 

 

Komentar

Postingan Populer